Wednesday, May 25, 2011

Materi Dhamma class Bab 2 Ketuhanan Dalam Agama Buddha

KONSEP KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA (1)

I.           PENGERTIAN KETUHANAN
A.      Ketuhanan Yang Maha Esa
1.       Setiap agama bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa
a.       Islam : Cuma satu-satunya (Tauhid) ada di dalam surat Al-Ikhlas
b.      Kristen: Trinitas (Bapa-Putra-Roh Kudus) ada di dalam Credo
c.       Hindu : Tri Murti (Brahma-Vishnu-Shiva) ada di dalam kitab Purana (Brahma Purana)
d.      Khong Hu Cu : Thien ada di dalam kitab Yi Ching
e.      Buddha : Nibbana (Terbebas dari lobha, dosa, moha= penderitaan) ada di dalam kitab Udana VIII:3
2.       Agama Buddha juga bersendikan Ketuhanan YME
Komentar: Tuhan dalam agama Buddha ialah Impersonal (tidak berpribadi) artinya tidak memiliki sifat-sifat seperti manusia dan tidak berbentuk seperti manusia.
3.       Akibat adanya keyakinan terhadap Tuhan YME
Maka akan timbul saddha (keyakinan yang tidak membuta). Sehingga yakin terhadap Nibbana, setelah yakin akibatnya mempraktikkan Sila-Samadhi-Panna untuk merealisasi Nibbana
4.       Perealisasian Ketuhanan YME
Komentarnya: Harus dialami sendiri dan Cuma ada satu Jalan yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan.

B.      Salah pandangan yang mengatakan bahwa agama Buddha tidak bertuhan.
Karena tidak berpribadi/inti (Anatta)

C.      Pengertian Ketuhanan YME menurut ajaran Buddha
1.       Aspek Navy yaitu meniadakan lobha, dosa, moha
2.       Tidak dipandang sebagai suatu pribadi karena Anatta dan Impersonal
3.       Udana VIII:3 isinya “Para bhikkhu ada yang tidak menjelma, tidak dilahirkan, tidak tercipta, tidak berkondisi, mutlak adanya, ….”
4.       Cara untuk dapat memahami hakekat Ketuhanan ialah dengan cara menjalankan Sila-Samadhi-Panna

D.      Kesimpulan bahwa agama Buddha mengajarkan keyakinan terhadap Ketuhanan YME yaitu berdasarkan atas keyakinan (mengajarkan ketuhanan YME dan Suci)

II.         HAL-HAL YANG SECARA UMUM DAPAT DIKAITKAN DENGAN HAKEKAT KETUHANAN YME
A.      Konsep Ketuhanan yaitu NIbbana = Anatta
B.      Agama Buddha menolak doktrin Brahmanisme yaitu adanya Roh yang KEKAL
C.      Agama Buddha menolak doktrin Materialisme ialah tidak ada batin dan jasmani atau hancur semua

III.       KESIMPULAN TENTANG HAKEKAT KETUHANAN
A.      Mengacu sebagai tujuan hidup yaitu kita yang harus aktif untuk merealisasi kebahagiaan kekal sebagai tujuan hidup kita
B.      Konsep Ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain
Komentarnya: Bahwa agama Buddha tidak pernah berlindung kepada apa pun selain kepada diri sendiri.




KONSEP KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA (2)

1.       KONSEP KETUHANAN IDENTIK DENGAN KONSEP KESELAMATAN ATAU KEBEBASAN

2.       ADA 3 SISTIM KONSEP KESELAMATAN
A.   Ortodox ialah segala sesuatu ditentukan oleh yng di Atas
B.   Heterodox ialah Campuran (Usaha + telah ditentukan)
C.   Independent ialah Kemandirian (Usaha sendiri)

3.       KONSEP KESELAMATAN DALAM AGAMA BUDDHA
A.      Nibbana : Orang yang yang telah meraih Nibbana baru dapat dikatakan telah selamat
B.      Anatta : Kita harus menyadari Anatta agar dapat merealisasi Nibbana. Karena kita sendiri Anatta dan Nibbana Anatta maka kita dapat mengalami kekalan Nibbana dalam batin

4.          NIBBANA
A.      Apa? Terbebas dari kondisi lobha, dosa, moha, samsara, proses
i.      Benarkah Nibbana itu ada? 100% ada (karena ada LDM, maka ada yang terbebas dari LDM)
ii.    Maha Suci, Maha Esa artinya Maha Suci telah terbebas dari LDM. Maha Esa yaitu karena Nibbana Cuma satu-satunya.
B.      Mengapa? Karena Nibbana tujuan akhir untuk merealisasi Kebabasan Mutlak
C.      Dimana? Distu ada LDM, maka disitu ada Nibbana (Di batin)
D.      Kapan? Saat LDM terhenti
E.       Bagaimana cara memahami hakikat Nibbana? Dengan melaksanakan Sila-Samadhi-Panna

5.          DEFENISI-DEFENISI LAIN TENTANG KETUHANAN
A.      Impersonal (bukan pribadi)
i.      Anthropomorphisme (tidak bersabda, melihat atau tidak memiliki bentuk manusia)
ii.    Anthorpopatisme (tidak memiliki sifat-sifat seperti manusia)
B.      Apakah konsep tersebut tidak menyalahi/bertentangan dengan Pancasila dasar Negara Republik Indonesia? Tidak karena setiap agama memiliki konsepnya masing-masing dan salah pandang bahwa agama Buddha tidak berketuhanan
C.      Munculnya konsep Immanent dan Transendent
i.      Immanent yaitu Tuhan yang ada di dalam hati nurani
ii.    Transendet yaitu Tuhan yang jauh, yang tanpa kata-kata
D.      Apakah yang personal itubetul-betul ada?
i.      Konsepnya (memang ada)
ii.    Hakikatnya (tidak ada)
Komentarnya: Konsep/doktrin ada 3 macam
1.       Konsep murni (tidak ada hakikat) yaitu kosong
2.       Konsep mewakili hakikat tentang sesuatu
3.       Hakikat itu sendiri

6.          BEBERAPA CERITA BERKENAAN DENGAN KONSEP KETUHANAN
A.      Cerita Ortodox dan Heterodox serta penjelasan dari sudut pandang Hukum Kamma
Contoh: O (menganut faham Ortodox), dan H (menganut faham Heterodox)
Begini ceritanya:
H berkunjung ke rumah O. ia ingin membicarakan mana yang lebih baik antara faham Ortodox atau Heterodox dan akhirnya setelah berbincang-bincang lama, mereka tidak mendapati keputusan sepakat yang mufakat. Akhirnya H minta izin pulang. Namun, ditengah perjalanan pulangnya H melihat seorang tukang jeruk pikul sedang memunguti buah jeruk yang jatuh, karena H adalah penganut faham Heterodox yang saleh maka ia pun membantu tukang jeruk yang kerepotan itu. Sebagai ucapan terima kasih maka H diberikan 10 buah jeruk yang ranum dan menggiurkan. Ternyata dengan penuh kesadaran tentang faham Heterdoxnya, ia berbalik arah pergi ke rumah O. di gedor-gedor rumah O yang sedang tertidur setelah perdebatan yang melelahkan tersebut.
Selanjutnya O membuka pintu rumahnya. Dan H dengan semangatnya ingin menyampaikan bukti-bukti dari pengalaman hidupnya yang berhubungan faham Heterodoxnya. Lalu O mempersilahkan H untuk duduk. Sambil menghabiskan 10 buah jeruk yang manis dan ranum tersebut akhirnya H menjelaskan maksud kedatangannya kembali. Setelah H menjelaskan maksudnya kepada O dengan perasaan senang gembira dan setelah itu O berkomentar.
“Oh…begitu….itu kan kamu! Saya sedari tadi tidak berbuat apa-apa tapi tiba-tiba kamu membawakan saya 5 buah jeruk ranum dari kamu!
Dari cerita tadi dapatka diambil kesimpulan bahwa Ortodox dan Heterodox adalah bentuk-bentuk dari kamma yang berproses.

7.          AKIBAT-AKIBAT YANG TERJADI KARENA ADANYA KEYAKINAN TERHADAP KETUHANAN YME
Komentarnya: Mengakibatkan kita menjalankan Sila-Samadhi-Panna

8.          PERTANYAAN TENTANG KONSEP KETUHANAN
A.      Mengapa Ketuhanan mengacu kepada Nibbana?
i.      Karena Nibbana merupakan otoritas tertinggi di dalam agama Buddha
ii.    Karena Nibbana telah terbebas dari Tanha (lobha, dosa, moha) yaitu keinginan nafsu rendah
iii.   Karena Nibbana impersonal (bukan orang/pribadi)
B.      Sifat-sfat tuhan dalam agama Buddha?
i.      Tidak memiliki:
1.    Anthropomorphisme : tidak berbentuk manusia. Contoh: tidak spt laki-laki atau wanita, binatang, cahaya, huruf, dll
2.    Anthropopatisme : tidak memiliki sifat-sifat spt manusia. Contoh: marah, cemburu, dendam, pengasih, penyayang, dll
ii.    Tetapi hanya memiliki 2 hal, yaitu:
1.    Maha Esa yaitu Nibbana Cuma satu dan untuk merealisasi Nibbana hany ada satu jalan yaitu Jalan Mulia Berunsur 8 (Ariya Atthangika Magga)
2.    Maha Suci yaitu Nibbana tidak terkena hal-hal yang bersifat duniawi (lokiya) tetapi Nibbana diatas duniawi (lokuttara).
C.      Mengapa Impersonal?
i.      Karena jika personal akan berkondisi, yang berkondisi selalu berubah, dan berproses. Jika berproses dan berubah tidak kekal. Maka yang personal dan berkondisi selalu akan berubah, hancur, dan musnah.
ii.    Kalau personal dapat sering disalahkan dan direndahkan
D.      Bolehkah Impersonal tersebut exist di Indonesia?
i.      Boleh, karena tidak melanggar Pancasila RI ke 1, dan UUD 1945 ayat 1 dan 2.
ii.    Contoh: Islam (Tauhid), Kristen (Trinitas), Hindu (Tri Murti), Khong Hu Cu (Thien), Tao (Im Yang), Buddha (Impersonal).
iii.   Setiap agama mengenai konsep ketuhanannya tidak akan sama
E.       Siapa yang maha pencipta?
i.                     Di dalam agama Buddha tidak ada causa prima, sebab semuanya selalu berkondisi, dan permulaan/awal itu sangat kompleks.
ii.                   Contoh: Pisang goring, pisang goring dapat jadi karena ada banyak sebab. Antara lain: pisang, minyak goring, terigu, kompor, manusia pembuat, dll. Lalu pisang [un banyak kondisinya untuk terjadi menjadi buah pisang dll. Itu baru pisang goring, lalu kita mau bicara Tuhan? Sulit yang maha pencipta di dalam agama Buddha ialah kondisi-kondisi.
F.       Apakah yang tidak berkondisi itu benar-benar ada?
i.                     Karena yang berkondisi itu selalu berubah, yang selalu berubah itu tidak memuaskan, yang tidak memuaskan itu adalah dukkha (penderitaan)
ii.                   Yang tidak berkondisi itu benar-benar ada, kita tahu dari:
1.       Dari kitab suci Udana VIII:3
2.       Dari logika yaitu: ada gelap maka ada terang. Ada yg berkondisi maka ada yg tidak berkondisi
3.       Mengalami langsung selagi masih hidup dengan menjadi Arahat
G.     Apakah merealisasi/menagalami Nibbana sama dengan menjadi Tuhan?
i.                     Jawabannya: Tidak
ii.                   Contohnya: jika Nibbana diibaratkan ancol, maka jika kita melihat ancol apakah kita menjadi ancol? Tentu tidak, kita hanya orang yang telah melihat/mengalami ancol apa adanya.
H.      Apakah sesudah Parinibbana (wafat untuk Arahat) masih ada atau tidak?
i.                     Apakah Sang Buddha wafat masih ada atau tidak?
1.       Cattu Skoti (4 pernyataan jawaban)
a.       Apakah Sang Buddha ada setelah wafat? (+) positif
b.      Apakah Sang Buddha tiada setelah wafat? (-) negative
c.       Apakah Sang Buddha ada dan tiada setelah wafat (+,-) konjungtif
d.      Apakah Sang Buddha bukan ada dan tidak tiada setelah wafat? – (+,-) disjungtif
2.       Contoh orang buta sejak lahir ditanya warna hijau
a.       Apakah hijau itu bundar?
b.      Apakah hijau itu kotak?
c.       Apakah hijau itu lonjong?
d.      Apakah hijau tidak berbentuk?
3.       Contoh orang mandul yg ditanya tentang warna kulitnya
a.       Apakah orang mandul itu kulit anaknya putih?
b.      Apakah orang mandul itu kulit anaknya hitam?
c.       Apakah orang mandul itu kulit anaknya abu-abu?
d.      Apakah orang mandul itu kulit anaknya belang/tak berwarna?
ii.                   Mengapa?
1.       Karena hal-hal yang mengenai warna tidak bias dijelaskan dengan bentuk apa pun
2.       Begitu pula hal-hal yang berkondisi tidak dapat menjelaskan hal-hal yang tidak berkondisi dan tidak dapat diuraikan dengan kata-kata

9.          FASE-FASE KONSEP KETUHANAN DI DUNIA
i.                     Keyakinan manusia dipengaruhi oleh pola piker dan pola hidup yang nantinya dijadikan ketergantungan/perlindungan dari makhluk tersebut
ii.                   5 fase Ketuhanan

 
POLA HIDUP
POLA PIKIR
Zaman Purba
*Apa saja yang dianggap dapat melindungi disembah
*karena tergantung pada binatang maka ia menyembah hewan
Zaman bercocok tanam
*Mereka tergantung pada iklim, lalu dibentuk sesuatu yang mengatur iklim yaitu dewa dan dewi
*ada pula yang menyembah kekuatan-kekuatan alam misalnya: pohon, petir, api, air, dll
Zaman Industri sederhana
*Mereka sudah dapat membuat rumah, baju, bangku, dll dan mereka berpikir, kalau saya bias membuat sesuatu, lalu siapa yang menciptakan saya? Lalu dibuat konsep berdasarkan akal yaitu gaib (maha pencipta)
Zaman industry besar
*peradaban sangat maju ada yang pergi ke antar planet dan tekhnologi maju pesat mereka berpikir, saya dapat membuat segala hal maka sayalah Tuhan
Spiritual maju
*Nanti ada orang yang merenung tentang siapa saya? Lalu ia menembus kesunyataan bahwa saya adalah perpaduan antara Batin dan Jasmani. Batin dan Jasmani selalu berubah, tidak memuaskan, dan tidak dapat dimiliki sepenuhnya. Jadi tidak ada yang namanya ‘ini milikku’, ‘ini aku’, dll. Ia merealiasi kesucian dan batinnya tidak ternoda oleh hal-hal duniawi. Ia merealisasi Nibbana, kebahagiaan mutlak.

10.          KESELAMATAN DALAM AGAMA BUDDHA DAN DUNIA
i.                     Orthodox
ii.                   Heterodox
iii.                  Independet

Materi ini dipelajari berdasarkan kurikulum susunan Bpk. Doddy Herwidanto., MA., SAg. Dhamma Study Group Bogor

Materi Dhamma class Bab 1 Agama dan Tujuan Hidup

AGAMA & TUJUAN HIDUP

PENDAHULUAN

Sebelum membahas Buddha Dhamma, pertamakali kita harus membahas dahulu apa itu agama dan tujuan hidup menurut umum dan menurut Dhamma. Mengapa pembahasan agama dan tujuan hidup itu menjadi pembahasan pertama? Alasannya adalah:
1.     Karena bangsa Indonesia terkenal dengan masyarakatnya yang beragama (bangsa Indonesia melarang faham atheis dan komunis). Tapi apakah mereka mengetahui arti kata agama dengan sebenarnya?
2.     Karena hidup itu harus mempunyai tujuan. Apabila mengerti ada tujuan yang akan dicapai maka timbul keinginan untuk mencapai tujuan tersebut.
3.     Skema :
*Kita memiliki tujuan/goal, selanjutnya kita mengarah pada tujuan/goal.
*Namun kita butuh proses, dari kita ke goal.
*Proses tersebut menimbulkan gangguan dan halangan.
*Gangguan dan halangan tersebut dating dari 2 arah yaitu: dalam diri dan luar diri
*Halangan dari dalam diri yaitu kekotoran batin kita: malas, pandangan salah, marah, dll
*Halangan dari luar diri yaitu hujan, macet, panas, dingin, masyarakat, dll
*Manakah halangan yang seungguhnya paling berat? Dari dalam diri

I.   DEFENISI AGAMA

Secara umum ada yang menyatakan arti dari kata agama adalah:

1.     Dari kata A yang berarti tidak dan gama yang berarti kacau. Jadi artinya tidak kacau. Maksud dari supaya agar tidak kacau, setiap orang harus mempunyai paganggan hidup. Tetapi arti dari kata a = tidak, gama= kacau, tersebut tidak ada dalam kamus/kitab manapun. Jadi hal ini tidak dapat kita terima sebagai penulisan ilmiah.
2.     Kata agama berasal dari Catur Agama. Pada zaman dahulu di Nusantara, ajaran Buddha yang ada dan sering dipelajari orang-orang adalah Catur Agama yang terdiri dari empat bagian kitab yaitu:
a.        Dirgha Gama yaitu pelajaran/kitab yang berisikan khotbah-khotbah panjang dari Sang Buddha
b.        Madya Gama yaitu pelajaran/kitab yang berisikan khotbah-khotbah menengah dari Sang Buddha
c.        Sangyukta Gama yaitu pelajaran/kitab yang berisikan khotbah-khotbah pendek dari Sang Buddha
d.        Ekottarika Gama yaitu pelajaran/kitab yang berisikan khotbah-khotbah sangat singkt dari Sang Buddha
Jadi apabila ada seseorang ingin mempelajari ajaran Buddha maka dia akan berkata “Saya akan belajar agama”. Kata agama dalam hal ini bias diterima. Pada zaman sekarang Catur Agama sudah sulit dijumpai, tetapi kita dapat menemukannya atau mempelajarinya pada kitab Tipitaka dibagian Sutta Pitaka yaitu Panca Nikaya.
Digha NIkaya, Majjhima Nikaya, Samyutta Nikaya, Anguttara Nikaya, Khuddhaka NIkaya (semua dalam Pali Tex).
3.     Kata agama berasal dari system pengambilan kesimpulan di India. System pengambilan kesimpulan tersebut yaitu Nigama = deduktif dan Agama = Induktif. Contoh:
a.  Nigama (Deduktif = dari luas ke sempit): Semua orang Bogor kaya raya, si Budi, Iwan orang bogor.
b.  Agama (induktif = dari sempit ke luas): Iwan, Budi mereka kaya raya, semua orang Bogor.
4.     Kata agama berasal dari akar kata gacc (√gacc ) yang berarti pegi kea tau menuju ke. Akar kata merupakan pengambilan kata yang paling dasar. Bahasa Pali merupakan bahasa yang paling kuno di India dan belum ada tulisannya. Setelah itu berkembang menjadai bahasa Pakrit yang telah memiliki tulisan tetapi sederhana dan kemudian berkembang menjadi bahasa Sanskrit (sansekerta) yang memiliki tulisan/huruf Dewanagari. Dan bahasa Sanskrit dari mulai bahasa Pali sampai dengan bahasa Sanskrit itu tidak berubah sebutan dan artinya. Dari sini bias diterima tetapi akan timbul suatu pertanyaan seperti: Apabila artinya “menuju ke” maka pasti ada tujuannya (tempat yang dituju), tapi menuju kemana?

II.        Tujuan Hidup
Tujuan hidup setiap makhluk adalah mencari kebahagiaan. Kebahagiaan disini diartikan sebagai tercapainya cita-cita/yang diinginkan atau waktu perlu ada. Tapi, apakah bahagia seperti itu kekal?

III.      Kebahagiaan
Ternyata kebahagiaan tersebut merupakan bahagia yang berkondisi. Dan bahagia tersebut tidaklah kekal. Seperti contoh, apabila kita belajar maka tujuan kita adalah lulus ujian. Akhirnya setelah ujian dan dinyatakan lulus maka kita senang (artinya tercapai cita-cita) tetapi apakah kita dapat mempertahankan momen senang it uterus menerus?
Apakah setelah itu kita mendengar kabar orang tua kita meninggal, apakah momen kesenangan bahwa kita telah lulus itu masih terus muncul? Jawabannya adalah kebahagiaan tersebut masih berkondisi. Maksudnya adalah berubah-ubah (berproses). Oleh karena itu, banyak orang akhirnya mencari kebahagiaan yang kekal. Maka banyak orang memberikan konsep-konsep kebahagiaan yang kekal (entah dari pengertian sendiri atau pun dibantu oleh makhluk-makhluk.
Terdapat 4 macam kebahagiaan:
1.        Surga
Penuh dengan kesenangan indera dan kegembiraan yang tiada taranya. Disana, mereka akan hidup kekal dengan kegembiraan dan     kesenangan indera karena disurga terdapat pemandangan yang indah dengan penghuni-penghuninya yang cantik dan tampan (pokoknya segalanya indah).

2.        Brahma
Alam Brahma itu lebih tinggi dari surge. Surge yang mash diliputi oleh kesenangan indera masih terbilang rendah sipiritualnya. Karena mereka berfikir apabila masih terdapat kesenangan indera dan masih melekatinya, maka itu akan mengalami kondisi (berkondisi) dan akan berakhir, tetapi di alam Brahma adalah kekal dan tertinggi karena sudah terbebas dari kesenangan indera.

3.        Arupa Brahma
Mereka berfikir bahwa Brahma itu masih memiliki materi (jasmani). Dan dalam pikiran mereka jasmaniah yang membuat mereka tidak kekal (karena apabila ada jasmaniah maka akan berproses). Jadi jasmaniahlah sumber penderitaan. Maka mereka berpikir bahwa Brahma tanpa materilah yang tertinggi (Arupa Brahma).

4.        Nibbana
Merupakan kebahagiaan tertinggi yang menjadi tujuan dari umat Buddha. Mengapa Nibbana yang terpilih?

IV.      NIbbana
1.        Apakah Nibbana itu? Dan mengapa yang dipilih adalah Nibbana?
Nibbana adalah terbebas dari lobha, dosa, dan moha

*Karena yang membuat kita tidak bahagia adalah 3 akar kejahatan, yaitu:
a. lobha = keserakahan yang berarti melekat pada obyek-obyek yang menyenangkan. Cirinya cenderung melebih-lebihkan (melekat).
b. dosa = kebencian yang berarti menolak kepada obyek-obyek yang tidak menyenangkan. Cirinya cenderung menjelek-jelekan (menolak)
c. moha = kegelapan batin yang berarti tidak mengetahui yang baik dan buruk. Cirinya cenderung ikut-ikutan (tak ada pegangan).

*Tujuan hidup kita adalah terbebas dari lobha, dosa, dan moha yaitu merealisasi Nibbana.
*mengapa bukan surge, Brahma, dan Arupa Brahma? Karena pada alam-alam tersebut masih memiliki lobha, dosa, dan moha yang artinya masih berkondisi (timbul, berlangsung, padam). Apa buktinya bahwa surge, brahma, dan arupa brahma tersebut masih berkondisi?
*Contoh: dalam agama Buddha dkenal 31 alam kehidupan. Surga, Brahma, dan Arupa Brahma merupakan salah satu bagian dari 31 alam kehidupan tersebut. Karena masih terdapat lobha, dosa, dan moha, makhluk-makhluknya masih berputar-putar di 31 alam kehidupan. Apabila sudah tidak terdapat lobha, dosa, dan moha maka akan terbebas dari 31 alam kehidupan dan tidak akan hidup-mati lagi tetapi sudah terbebas dari semua itu yaitu Nibbana.

2.        Apakah Nibbana benar-benar ada? Dari mana kita tahu?
Kita mengetahui adanya Nibbana bukan sekedar percaya saja atau yakin saja. Tetapi kita dapat mengetahui Nibbana itu ada melalui 3 cara yaitu:
a.        Dari kitab suci Tipitaka Udana VIII : 3
b.        Dengan analogi bahwa hal tersebut dapat diterima secara logika. Antara lain:
-adanya gelap karena ada perbandingan yaitu terang
-adanay besar karena ada perbandingan yaitu kecil
-adanya yang tak berkondisi (NIbbana) karena ada perbandingannya yaitu yang berkondisi
-suatu garis apakah dapat dikatakan pendek/panjang? Tidak dapat, karena belum ada pembandngnya
Itu adalah beberapa pembahasan secara analogi yg biasa diterima oleh logika
-Sang Buddha bersabda: “Di dalam tubuh yang sedepa ini terdapat dukkha, sebab dukkha, terhentinya dukkha, dan jalan menuju terhentinya dukkha. Dan analogi yang dapat diterima dengan Atthangika Magga (ada Lobha, dosa, dan moha maka ada yang tidak ada lobha, dosa, dan moha) atau ada yang berkondisi maka ada yang tidak berkondisi.

3.       Penjelasan tingkatan Panna (dengan analogi)
a. Suta Maya Panna (Panna  yang timbul karena mendengar/belajar)
b. Cinta Maya Panna (Panna yang timbul karena logika)
c. Bhavana Maya Panna (Panna yang timbul karena sudah mengalami langsung)

V.        Hidup
a.        Apa itu hidup? Proses dari nama dan rupa karena berkondisi
b.        Mengapa hidup? Karena berkondisi
c.        Kapan hidup? Saat ini
d.        Dimana hidup? Disini
e.        Bagaimana hidup itu ? karena berkondisi dicengkeram oleh dukkha
f.         Penjelasan antara hidup dan kehidupan
1.        Hidup adanya adanya Nama dan Rupa
2.        Kehidupan adalah proses Nama dan Rupa

VI.                  TUJUAN HIDUP DALAM AGAMA BUDDHA
a.        Tujuan hidup bukan sekedar mencapai kebahagiaan yang berkondisi, tetapi juga sampai dapat merealisasi kebahagiaan yang tidak berkondisi. Komentar: berarti kebahagiaan duniawi perlu untuk menunjang tercapai kebahagiaan tertinggi yaitu merealisasi Nibbana.
b.        Pandangan salah terhadap tujuan hidup dalam agama Buddha. Komentarnya: tujuan hidup agama Buddha bukanlah sesuatu diatur oleh Sang Maha Tinggi, berserah, bersujud maka akan tercapai, tetapi tujuan hidup agama Buddha yaitu dengan sekuat tenaga menjalankan ajaran Sang Buddha hingga dapat merealisasi Nibbana.
c.        Beberapa Sutta yang merupakan penjelasan untuk mengatasi pandangan salah terhadap tujuan hidup dalam agama Buddha. Komentarnya: terdapat dalam Brahma Jala Sutta
d.        Penjelasan kesimpulan tujuan hidup. Komentarnya: manusia itu sendirilah yang harus berusaha untuk mencapai tujuan hidupnya, jadi tidak ada yang menjadi pengatur di belakang itu.

 Materi ini dipelajari berdasarkan kurikulum susunan Bpk. Doddy Herwidanto., MA., SAg. Dhamma Study Group Bogor